Jumat, 09 Oktober 2009

MULTAQO Ke 2 HIMMA Al Anwar Sarang

Asatidz & Santri Pondok Pesantren Al Anwar

Kamis, 20 Agu 2009

MULTAQO KE II HIMMA

Siang itu, Ketika terik sinar matahari menyengat setiap insan yang beraktifitas diatas bumi, diiringi dengan hembusan angin laut yang bertiup dari arah utara pantai kota Sarang, Telah Datang beberapa alumni Ponpes Al-Anwar dari berbagai daerah diseluruh Indonesia dalam rangka MULTAQO KE II HIMMA (Himpunan Mutkhorrijin Mutakhorrijat Al-Anwar). Walaupun keadaan yang demikian pada umumnya menjadikan orang-orang malas untuk beraktifitas diluar rumah, Tapi didorong karena rasa mahabbah dan rindu ingin bertemu dan mengaji pada Syaikhina Maimoen semua ‘awaridh tersebut mereka anggap sebagai angin lalu.

Siang itu, Ketika terik sinar matahari menyengat setiap insan yang beraktifitas diatas bumi, diiringi dengan hembusan angin laut yang bertiup dari arah utara pantai kota Sarang, Telah Datang beberapa alumni Ponpes Al-Anwar dari berbagai daerah diseluruh Indonesia dalam rangka MULTAQO KE II HIMMA (Himpunan Mutkhorrijin Mutakhorrijat Al-Anwar). Walaupun keadaan yang demikian pada umumnya menjadikan orang-orang malas untuk beraktifitas diluar rumah, Tapi didorong karena rasa mahabbah dan rindu ingin bertemu dan mengaji pada Syaikhina Maimoen semua ‘awaridh tersebut mereka anggap sebagai angin lalu. Tepatnya pada hari Jum'at, tanggal 14- Agustus-2009 pukul 02.00 WIS (Waktu Istiwa') acara dimulai dengan K.H. Najib Bukhori sebagai M.C. dalam pembukaannya beliau menyatakan bahwa sebenarnya agenda Multaqo HIMMA ingin diadakan selapan sekali yaitu pada kamis legi (karena hari tersebut merupakan weton dari syaikhina Maimoen, sebagaimana diungkapakan oleh K. Cholid SC, selaku ketua I HIMMA), tapi karena ada beberapa kendala akhirnya agenda tersebut dirubah dan bisa terlakasana pada Jum'at tersebut. Kemudian beliau membacakan susunan acara yang akan berlangsung pada siang itu.

Menempati acara yang kedua adalah pembacaan ayat suci al-Qur'an yang dibacakan oleh saudara Wahyudi. Dilanjutkan sambutan atas nama alumni yang disampaikan oleh KH. Asnawi Kudus. Dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa kedatangan para alumni kepondok ini tidak lain adalah karena ingin mengaji pada beliau syaikhina Maimoen, karena tentunya para alumni yang sudah muqim ditempatnya masing-masing mempunyai wadlifah yang berbeda-beda, tapi mereka tetap berusaha untuk da'wah ilallah sehingga jika apa yang mereka dapatkan dipondok dulu "diberikan" kepada masyarakat terus maka akan habis, jadi mereka butuh bahan untuk lebih semangat dalam menjalankan wadlifah tersebut, disamping event ini merupakan salah satu cara untuk menguatkan Robithoh Qolbiyyah dengan syaikhina Maimoen. Dilanjutkan dengan sambutan atas nama Dzurriyyah yang disampaikan oleh KH. Abdur Rouff Maimoen, dalam sambutannya Gus Rouf mengungkapkan rasa bahagia beliau dan menginginkan agar semua santri Al-Anwar bisa bersatu walaupun berbeda-beda, Beliau berkata " saya tadi dicritani oleh salah satu alumni bahwa dulu dia dipondok pernah ditakzir oleh salah satu temannya yang jadi keamanan karena suatu hal, tapi ketika sekarang dirumah mereka sering runtang runtung bareng dan saling SMS-an " ungkap beliau disambut tawa para alumni.

Dilanjutkan dengan acara terakhir yang merupakan acara inti dan ditunggu-tunggu yaitu Al-Mawa'idz Wan Nashoih oleh beliau Syaikhuna Maimoen Zubaer, dan dibawah ini kami suguhkan beberapa petuah beliau yang dapat kami tangkap dari Al-Mawa'idz Wan Nashoih pada siang itu, beliau menyatakan sebagai berikut :

Pertama, Alloh SWT menjadikan kaum muslimin itu tidak hanya satu kelompok saja, akan tetapi beberapa kelompok yang antara satu dan yang lain saling bertentangan dan beda pendapat. Dalam satu contoh : suku Quraisy itu dipimpin oleh empat kelompok yaitu Bani Hasyim, Bani Mutholib, Bani Nauval dan Bani Abdi Syamsin dan keempat kelompok ini terbagi menjadi dua kelompok, pertama kelompok yang ingin mengembalikan izzul ‘Arab melalui Islam yaitu dengan mempersiapkan kelahiran Nabi yang ditunggu-tunggu, mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutholib dan hal ini mereka ketahui melalui isyaroh Alloh SWT yang diterima oleh Abdul Mutholib (kakek baginda Nabi sendiri) berupa digalinya sumur zam-zam yang menjadi salah satu sumber kehidupan suku Quraisy dan penduduk Makkah pada umumnya, karena sumur zam-zam tidak akan digali kecuali pada zaman Nabi yang terakhir (Nabi Muhammad SAW), adapun zam-zam yang ada pada masa Nabi Isma'il AS adalah mata air atau sendang (danau) bukan sumur. Sebagai rasa terima kasih bangsa Arab ingin mengangkat beliau sebagai raja atau pemimpin sebagai penghormatan, akan tetapi beliau menolak dan mengatakan " jadikan saja aku sebagai Syaikhu Makkah yang mana kalian tidak akan memutuskan suatu perkara apapun kecuali setelah kalian meminta pendapatku terlebih dahulu " dan ahirnya untuk mengenang jasa beliau dibangunlah Darun Nadwah yang mana orang Arab tidak akan memutuskan suatu masalah apapun kecuali di Darun Nadwah. Jadi, karena jasa besar Bani Hasyim dan Bani Mutholib kepada beliau inilah maka Rosululloh menjawab " katakan :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد

Ketika beliau ditanya " wahai Rosululloh bagaimanakah kami membaca sholawat pada anda ? 1

Yang dimaksud dengan kalimat (آل ) pada Hadist diatas adalah Bani Hasyim dan Bani Mutholib adapun para sahabat tidak ada dalam satu ayat al-Qur'an ataupun Hadist yang menyinggung tentang solawat pada sahabat 2, hanya saja dalam al-Qur'an Alloh berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [التوبة/100]

Artinya :

" Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar "

Jadi untuk Sahabat bukanlah dengan solawat tapi Istirdho' yaitu ucapan ( رضي الله عنه ) dan ahirnya hal ini pun menjalar pada para Auliya' karena dalam ayat diatas disebutkan (وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ ). Sedang kelompok yang kedua ingin mengembalikan izzul ‘Arab melalui ‘Aribah (kesukuan arab), yang mana hal ini bertentangan dengan Bani Hasyim dan Bani Mutholib. Tapi anehnya orang yang sudah merasakan bahwa Muhammad akan menjadi Nabi akhir zaman tidak lain adalah Sayyidah Khodijah Al-Kubro RA yang tak lain beliau ini murid dari Waroqoh bin Nauval. Dalam taurat yang dipelajarinya dari Waroqoh bin Nauval ia meyakini bahwa Nabi akhir zaman itu harus pernah menginjakkan kakinya digunung Sinai, karena antara satu Nabi dan yang lain itu pasti ada kesinambungan sebagaimana itu tersiratkan pada permulaan surat At-Tin yang berbunyi

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ [التين/1-3 [

Artinya :

" Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman "

Pada lafald ( َالتِّينِ ) memberi isyarat pada Nabiyulloh Adam AS dan Nabi-Nabi setelahnya sampai Nabi Nuh AS, karena menurut pendapat yang mu'tamad syajaroh yang Nabi Adam AS dilarang mendekatinya adalah syajaroh Tin, sedang (وَالزَّيْتُونِ) memberi isyarat pada Nabiyyulloh Nuh AS dan Nabi-Nabi setelahnya, adapun ( وَطُورِ سِينِينَ ) yang berarti gunung Thur Sinai merupakan isyarat bagi Nabiyyulloh Ibrahim AS sampai pada Nabi Muhammad SAW yang diisyarahi dengan ( وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ ) yaitu Makkah al-Mukarromah, jadi antara satu nabi dan yang lain terdapat kesinambungan yang erat. Sayyidah Khodijah menunggu dan berharap-harap sampai ketika Nabi Muhammad berdagang untuknya ketanah Syam (Syiria) maka ia pun semakin yakin bahwa Muhammadl adalah Nabi akhir zaman karena perjalanan menuju syam itu melewati gunung Sinai, kemudian ia melamar Rosululloh SAW, begitu juga ketika ia sudah menjadi istri Rosululloh ia pun masih menunggu dan menunggu, tapi ketika umurnya mencapai 50 tahun dan umur Rosululloh mencapai 35 tahun Khodijah sering kelihatan termenung karena belum ada tanda-tanda beliau akan diangkat menjadi seorang Nabi dan hal ini diketahui oleh Rosululloh, lalu beliau bertanya kepada Khodijah " ada apa gerangan yang menjadikanmu kelihatan sering termenung wahai Khodijah? " ia pun menjawab " tidak apa-apa wahai Muhammad, aku hanya berpikir bahwa umurku sudah 50 tahun sedangkan engkau masih 35 tahun dan diluar sana masih banyak gadis-gadis cantik yang lebih menawan dariku " ia menutupi apa sebenarnya yang dipikirkan olehnya, Rosululloh pun dengan tegas menjawab " tidak ada satupun diatas bumi ini dan dibawah langit yang aku cintai kecuali engkau wahai Khodijah ". Alloh SWT menetapakan bahwa ternyata orang yang yang dapat memahami ini semua adalah Sayyidah Khodijah yang merupakan murid dari Waroqoh, sedang Waroqoh adalah putra dari Naufal yang notabennya bermusuhan dengan Bani Hasyim dan Bani Muthollib. Dari sini bisa kita ambil pelajaran bahwa ilmu itu lebih unggul dari pada sekedar cinta tanpa landasan ilmu, disamping juga memberikan pemahaman bagi kita bahwa semua yang terjadi didunia ini memang murni kehendak Alloh SWT karena kalau hal tersebut tidaklah murni kehendak- Nya saja, maka mestinya yang mengetahui hal tersebut adalah dari Bani Hasyim dan Muthollib, karena merekalah orang-orang yang mempersiapkan kelahiran Nabi yang ditunggju-tunggu.

Kedua, beliau berkata " orang islam itu harus mendalami dan memahami islam secara Kaffah dengan ditopang wawasan yang luas tidak hanya satu saja, sehingga kita tidak kalah dalam kompetisi didunia ini lebih-lebih dengan orang kafir, sebagai mana dikatakan oleh Walidi Kiyai Zubaer Dahlan beliau berkata " dadi wong islam kudu ngerti segala, ojo kok siji tok tapi kelangan liyane (حفظ شيأ وفات عنه أشياء ) " lebih-lebih dalam menghadapi dunia modern dengan kemajuan sains dan tekhnologi, sehingga mudah diakses dimana saja dan kapanpun. Hal itu menuntut seorang santri yang notabennya ia adalah ahlu dzikri yang di singgung oleh Alloh dalam Al-Qur'an, untuk mempunyai ke-ilmiahan yang mendalam dan pemikiran baru yang mungkin belum disentuh sama sekali oleh ulama' salaf kita dalam ijtihad mereka yang tertuangkan dalam Kutub Salafina As-Soleh. Dalam setiap masa yang dilalui oleh sebuah pemerintahan islam disitu pasti ada hijau (Ahlus Sunnah) dan ada yang biru (selain Ahlus Sunnah). kelompok yang tidak sesuai dengan ajaran Rosululloh yang dalam khazanah keilmiahan, biasa kita kenal dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jama'ah yaitu suatu kelompok yang mengusung ideologi yang berdasarkan pada Sunnah Rosululloh dan Jama'ah Sahabat. Dalam satu contoh kita tentunya tahu dan cukup kenal dengan Abdulloh Bin Ubay, yang mana ia adalah Roisul Munafiqin (pemimpin kaum munafiq) yaitu orang-orang yang berusaha merongrong islam dari dalam, tapi Rosululloh tidak pernah memusuhi mereka bahkan ketika Sayyidina Umar ingin membunuhnya dan meminta ijin pada Rosululloh, beliau pun menjawab " bagaimana jika nanti orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabatnya sendiri " sehingga dalam setiap peperangan beliau selalu mengajak kaum munafiq baik dalam perang Badar ataupun perang yang lain dan anehnya setiap peperangan yang diikuti oleh orang munafiq pasti Alloh memberi kemenangan seperti contoh perang badar, dalam perang ini sebenarnya kaum muslimin tidak hanya berjumlah 313 orang tapi lebih hanya saja tidak ditulis dalam sejarah kerena mereka orang munafiq, tapi sebaliknya jika kaum munafiq tidak ikut peperangan seperti dalam perang Uhud maka kaum muslimin kalah walaupun kekalahan tersebut juga karena kaum muslimin sendiri. Diceritakan, Ketika Rosululloh dan para sahabat pulang dari perang Uhud dengan membawa kekalahan dan dan rasa lelah maka Alloh menurunkan rasa aman bagi mereka yang berupa rasa kantuk yang luar biasa, hingga sebagian sahabat bercerita " kami telah dihinggapi oleh rasa kantuk yang luar biasa sedang kami dalam barisan perang uhud sampai-sampai pedangku jatuh lalu kuambil tapi jatuh lagi dan kuambil lagi "3 tapi sebagian kaum munafiq mengeluh dan mengatakan andaikan kita tetap berada di Madinah pastinya hal ini tidak akan terjadi, maka Alloh pun menurunkan ayat yang menolak ucapan mereka tadi dan seketika orang-orang munafiq tersebut mati walaupun mereka diatas tempat tidur mereka dalam keadaan istirahat, tidak ada manfaatnya keinginan mereka untuk beremukim dimadinah4 dan peristiwa ini Alloh abadikan dalam salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi sebagai berikut :

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور [آل عمران/154]

Artinya :

" Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?." Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati."

Begitu juga pada masa khulafa' ar-Rosyidun muncul golongan-golongan seperti khowarij dan yang lain, kemudian pada masa Bani Umayyah ada kelompok yang tidak senang dengan Ahlul Bait dan pada daulah Abbasiyyah dipimpin oleh beberapa kholifah yang berfaham Mu'tazilah dan semua itu tidak dihadapi Salafuna As-Soleh dengan kekerasan ataupun kebencian yang berlebihan sampai melebihi kebenciannya kepada orang Kafir, kalau hal ini kita praktekan pada masa kita yang penuh dengan ahli bid'ah semisal Muhammadiyyah, wahabi dan yang lain maka kita tidak boleh benci pada mereka melebihi kebencian kita kepada orang kafir seperti yang dilakukan oleh sebagian kiyai-kiyai dijawa ini, sampai ada sebagian kiyai yang jika kedatangan tamu dari Muhammadiyyah maka kursi yang diduduki orang tersebut dicuci, tapi jika kedatangan orang cina beliau tidak melakukan itu, sungguh hal yang aneh.

Walahasil, kita sebagai orang muslim yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama'ah harus tahu segala dan benar-benar meyakini bahwasanya kebaikan (al-khoir) dan kejelekan (as-syarr) itu dari Alloh dalam arti setiap sesuatu apapun itu pasti punya dua sisi, kebaikan dan kejelekan. Tidak bisa kita katakan murni baik dan tidak ada jeleknya, begitu juga sebaliknya, tapi setiap apapun Fi'lulloh itu pasti baik. Begitu juga dalam hokum islam kita harus mempunyai ilmu yang lebih mendalam dan lebih luas yang mencakup Al-Madzahib Al Arba'ah tidak syafi'I saja. karena mungkin banyak pada era modern ini hal-hal yang mungkin belum tersentuh sama sekali oleh Salafuna As-Soleh tidak cukup hanya dengan lulus MGS ataupun Muhadloroh kemudian kita merasa puas dan sudah berani terjun dimasyarakat luas. Inilah kira-kira yang dapat kami tangkap dan serap dari Al-Mawa'idz Wan Na-Nashoih beliau Syech Maimoen Zubaer dalam acara MULTAQO KE- II HIMMA pada siang itu. Dan akhirnya beliau meminta didoakan agar ketika beliau nanti kembali kepada Alloh SWT dalam keadaan Khusnul Khotimah, karena orang yang baik itu adalah orang yangn panjang umurnya dan baik akhirnya (من طال عمره وحسن آخره ) , sedang orang yang jelek adalah orang yang panjang umurnya tapi jelek akhirnya (من طال عمره وساء آخره ). Wa Allahu a'lam bis Sowab.

1 H.R. Muslim Vol 2 Hal 373 Maktabah Syamilah

2 Adapun adanya Sholawat pada sahabat maka melalui Qiyas kepada para Alurrosul. Lihat khasyiyah Bujairomi ‘Ala Al-Khotib Vol 1 Hal 131. Maktabah Syamilah.

3 Tafsir An-Nadzm Ad-Duror al-Imam Al-Biqo'iy Vol 2 Hal 192 Maktabah Syamilah

4 Tafsir Abis Sa'ud Vol 1 Hal 476 Maktabah Syamilah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar